EdukasiLiterasi

Wahai Politisi: Mari Berenang dalam Semesta Literasi

Kiwari, Sri Rahmi, lebih akrab disapa Bunda Rahmi, seorang politisi kelahiran Bantaeng, telah tiba di bukunya yang ke-8, Merakit Literasi Politik dan Politik literasi, per Desember 2023. Satu simpai pencapaian langka bagi seorang politisi. Sebentuk tindakan literasi, mencerminkan kelantipan seorang politisi perempuan. Dalam semesta literasi, paling tidak ada dua daya tariknya. Pertama, manakala seorang politisi menulis buku, apatah lagi sudah sampai delapan judul, menggambarkan sosok politisi bukan kaleng-kaleng.

Kedua, sosok politisi perempuan. Ini juga makhluk unik. Betapa tidak, sistem pemilu mesti dirancang agar jatah perempuan di parlemen, harus didukung oleh seperangkat pasal, agar terpenuhi keberadaannya.

Berlapik pada dua latar itu saja, Bunda Rahmi, kelihatannya telah melampau banyak hal dalam perpolitikan dan keperempuanan. Artinya, kelayakan untuk mendedahkan minda tentang literasi politik dan politik literasi, dapat dipendapatkan sebagai kelayakan ikut mendorong dinamika gerakan literasi.

Lalu, darimana muasal pencapaian itu? Selaku pegiat literasi, saya mencoba menelusuri beberapa penggal perjalanan hidup Bunda Rahmi. Satu yang memudahkan saya, sebab Bunda Rahmi masih terpaut kekerabatan, keluarga dekat saya. Maklum, ibunya, Hj. Badrah Idris, seorang pedagang,  merupakan sepupu satu kali saya. Neneknya, Fatimah Sulaimana, masih saudara kandung dengan bapak saya, Yusuf Sulaimana.

Ayahnya, H. Muh. Saleh, seorang yang pernah terjun di bidang politik. Menjadi pimpinan DPRD Bantaeng mewakili Partai NU. Rupanya, titisan darah politisi bisa ditautkan ke sang ayah. Meskipun setelah berpolitik, kembali menjadi PNS, berkantor di Dinas Koperasi Bantaeng, hingga wafatnya.

Sejak Bunda Rahmi menjadi pelajar di Bantaeng, ia sudah aktif di IPNU-IPPNU. Bahkan, ia pernah menjabat selaku Ketua IPPNU Bantaeng. Tampaknya, bakat kepemimpinan bisa dilacak pada fondasi aktivitas berorganisasi sejak remaja belia.

Begitu memasuki perguruan tinggi di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Fakultas Ekonomi, aktivitas perkuliahannya disandingkan dengan berorganisasi di luar kampus, tepatnya aktif lembaga kajian keislaman. Dari kajian ini kemudian, setelah pemerintahan Soeharto jatuh, banyak pentolannya memilih aktif di partai politik, Partai Keadilan, termasuk Bunda Rahmi. Dan, gong penabalan diri sebagai politisi pun mulai ia tabuh.

Sewaktu Bunda Rahmi masih mahasiswa, saya lumayan intens berinteraksi. Amat sering saya menyambangi mukimnya. Lebih dari itu, mukimnya menjadi salah satu tempat persinggahan saya dan  kawan-kawan saya di HMI MPO. Tentu dikarenakan pula saya cukup mengenal pentolan beberapa aktivis lembaga dakwah tempat Bunda Rahmi aktif.

Pengamatan saya menunjukkan, Bunda Rahmi telah menjadi pembaca buku sejak menjadi aktivis dakwah itu. Sesekali saya menggoda pikirannya dengan pikiran nyeleneh. Sehingga seringkali ada debat-debat kecil, tentang suatu perkara sosial keagamaan. Dilalahnya, karena waktu semua kelompok perlawanan terhadap Rezim Orba, masing-masing punya orientasi, tapi dipersamakan dalam satu terungku ketidakbebasan menyatakan pendapat.

Kejatuhan pemerintahan Soeharto, melahirkan kebebasan berekspresi, khususnya di bidang politik mendapat panggung luas. Semua orang atau kelompok boleh berpolitik sekaligus mendirikan partai politik. Ada satu buku yang merekam dinamika partai politik, Direktori Partai Politik Indonesia, mendaftar  lebih dari lima ratus partai. Baik bersifat nasional maupun lokal.

Saya pun masuk dalam pusaran eforia kebebasan berpolitik. Lahirlah Era Reformasi. Sebagai aktivis, saya memilih Partai Umat Islam (PUI), didirikan oleh Deliar Noer. Lebih dari itu, saya menjabat selaku Ketua Pelaksana Harian PUI Sulawesi Selatan. Sehingga, komunikasi antar partai, termasuk dengan Partai Keadilan, lewat politisinya, cukup memadai. Sering dinamai jaringan poros partai reformasi.

Pascapemilu  pertama Pemilu 1999, diikuti 48 partai politik, partai saya, PUI, tidak lolos electoral threshold, ambang batas persentase perolehan kursi. PUI memilih membubarkan diri. Saya kemudian memutuskan berhenti berpolitik praktis, memilih menjadi pegiat dan pekerja sosial, yang berpucuk pada pegiat literasi.

Sementara itu, Partai Keadilan bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bunda Rahmi tetap setia menjalani kehidupan politiknya, menjadi bagian garda terdepan PKS, khususnya di Makassar lalu Sulawesi Selatan. Tak tanggung-tanggung karir poltiknya, dua kali anggota DPRD Kota Makassar dan dua kali Anggota DPRD Sulawesi Selatan. Dan, Pemilu 2024, menjajal untuk menjadi Caleg DPR RI, daerah pemilihan, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar.

Ketika buku Merakit Literasi Politik dan Politik literasi, Bunda Rahmi tulis, ia melakukannya di sela-sela aktivitas politik dan selaku anggota DPRD Sulawesi Selatan. Tekadnya untuk menulis buku, paling tidak satu buku setahun, menjadi lapik utama kelahiran buku ini.

Nah, mungkin lebih elok, bila saya bercerita sedikit proses penerbitan buku ini. Syahdan, Bunda Rahmi, telah menerbitkan buku ke-6, berjudul Kuntum Mawar. Ia ingin mempercakapkan bukunya dan saya diminta untuk bertindak selaku pemantik percakapan. Saya pun oke, asal di Bantaeng. Mengapa? Karena saya ingin ada pertautan antara moncernya gerakan literasi di Bantaeng dengan seorang politisi yang melek literasi.

Arkian, buku ke-7 Bunda Rahmi terbit, berjudul, 30 Tahun sebuah Rahasia. Saya meminta kepadanya agar buku itu dipercakapkan pula di Bantaeng. Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan selaku komunitas literasi, menjadi penyelenggara. Suksesnya dua percakapan buku tersebut, melahirkan percakapan intens berikutnya.

Pucuknya, tatkala saya mengusulkan bagaimana agar dunia politik dengan jagat literasi, dibikinkan buku. Dan, sosok yang tepat untuk menuliskannya adalah Bunda Rahmi. Sebab, ia seorang politisi, punya pengalaman praktis berpolitik dan punya kapasitas literasi baca-tulis mumpuni. Hasilnya, Bunda Rahmi bersedia menulis buku bertemakan literasi politik dan politik, asalkan saya bersedia menjadi editor. Tak pakai waktu lama untuk mengiya, saya pun mengokekan.

Kalakian, harapan akan hadirnya buku bernuansa literasi politik dan politik literasi, tiba dipucuk keinginan. Mungkin bagi Bunda Rahmi, buku ini merupakan cara menunaikan janji tahunan pada dirinya. Namun, bagi saya, selaku pegiat literasi, lebih dari itu pengharapan saya. Berharap buku ini menjadi semacam peta petunjuk bagi para politisi, agar membumikan diri dalam terungku semesta literasi.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *