BantaengDaeng Litere'EdukasiInovasiJurnalisme WargaWisata

Wisata Baca Anak

Gerakan literasi paling mutakhir, modelnya bisa disepadankan dengan diska lepas (flashdisk), satu benda kecil nan sederhana, tapi isinya beragam dan jumlahnya banyak. Mobil perpustakaan keliling, serupa dengan diska lepas atau kandar kilas, memuat beragam buku dengan jumlah yang memadai. Konten dan konteksnya mampu diselaraskan dengan kebutuhan yang diinginkan.

Begitulah mobil perpustakaan milik Perpusda Bantaeng, saban Sabtu sore mangkal di Taman Bermain Anak Pantai Seruni Bantaeng. Pustakawan dan mobilnya, mengawal agenda literasi yang digagas oleh Darma Wanita Persatuan (DPW) Kabupaten Bantaeng. Hajatannya bertajuk, Wisata Baca Anak. Satu kemasan gerakan literasi, dengan cara melapak, berisi sederet acara, membaca, bermain, bernyanyi, bercerita, berpuisi, dan serumpun aktivitas berbau anak-anak.

“Kegiatan ini dihadirkan sebagai upaya meningkatkan minat baca, khususnya pada anak-anak. Dikemas dalam bentuk keceriaan dan keriangan, sebagai bagian dari cara menggembirakan anak-anak lewat dunia baca.”, tutur Vinka Nandakasih Wahab, ketua DWP Bantaeng.

Lebih jauh Vinka menguarkan, “Sasaran uatama adalah anak-anak dan masyarakat umum. Sebagai langkah taktis, diundang beberapa SD dan PAUD.”

Vinka menabalkan instruksi, “Program ini, akan berlangsung setiap Sabtu sore di Taman Bermain Anak Pantai Seruni Bantaeng, hingga Desember 2022 nanti. Insha Allah.” Lalu dikunci dengan penegasan, “Setiap Darma Wanita di OPD dan sepadannya, secara bergilir akan mengawal hajatan ini selaku penanggung jawab acara.”

Benar saja adanya. Selaku pegiat literasi, saya ikut menyata di area pada setiap hajatan. Sabtu, 6 Agustus 2022, giliran pertama DWP Kemenag Bantaeng. Pekan berikutnya, 13 Agustus 2022, penanggung jawabnya diamanahkan kepada DWP Dinas Sosial Bantaeng, dan hingga pekan ketiga, Sabtu, 20 Agustus 2022, diorganisir oleh DWP Kesbangpol Bantaeng.

Di sela-sela helatan, saya bersua dengan Kiky Suarsi Amin, seorang ASN dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Bantaeng. Kala saya meminta pendapatnya  sebagai personil  dinas perpustakaan yang menggawangi ketersediaan bahan bacaan? Kiky berujar, “Excited dan kami dengan senang hati bekerjasama dengan ibu-ibu DWP, bersinergi untuk meningkatkan minat baca terutama buat anak usia dini. Dan, ini sebentuk inovasi dari kami.”

Menarik untuk dicermati, model gerakan literasi yang dihadirkan oleh kolaborasi antara Perpusda Bantaeng dan DWP Bantaeng. Pertama, pihak perpustakaan mencolokkan diska lepasnya, berupa mobil perpustakaan keliling. Menyodorkan kapasitas sebagai institusi penyedia bahan bacaan, ke DPW Bantaeng, pada saat yang sama, DPW Bantaeng telah punya alat membaca isi mobil perpustakaan keliling, sebentuk jajaran keorganisasian yang terorganisir .

Kedua, saat dikemas di ruang terbuka, berarti bersifat rekreatif. Artinya, ada perspektif baru yang bakal menancap di pikiran publik, bahwa perpustakaan atau apa pun yang sejenisnya, tidak melulu di dalam gedung, dengan suasana hening, sunyi-senyap.

Ketiga, membidik kalangan usia dini, otomatis orang dewasa dan masyarakat umum akan ikut terlibat. Anak-anak usia dini ibarat ratu dalam kumpulan lebah. Sehingga, defenisi wisata pun tidak monoton lagi asumsinya yang cuma bersenang-senang.

Keempat, model wisata baca akan mendefenisikan hadirnya kultur baca yang menyenangkan. Dan, dari sinilah tujuan membaca sebagai jendela dunia bisa dibuka. Anak-anak akan berwisata dengan bacaannya ke segenap penjuru dunia.

Mungkin ada yang bertanya, efektifkah helata wisata baca ini untuk meningkatkan minat baca? Tentulah membutuhkan evaluasi dan durasi waktu akan mengujinya. Pastinya, langkah nyata sudah ada, mendekatkan bahan bacaan kepada para pembaca. Sebab, selama ini, salah satu masalah utama dari penyebab rendahnya tingkat literasi terletak pada ketersediaan bahan bacaan dan akses terhadap bahan bacaan. Nah, di arena ini keduanya disetubuhkan, bahan bacaan bersetubuh dengan pembacanya.

Sejauh pelaksanaan tiga pekan ini, saya berjumpa pula dengan beberapa orang pegiat literasi. Mereka salut dengan terobosan tersebut. Apatah lagi, menurut Dion Syaif Saen, seorang pegiat literasi dari Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng, jika para ibu-ibu sudah mulai bergerak, meskipun masih bersifat structural dan instruksional, tapi efeknya cukup nyata. Mungkin awalnya masih bersifat demikian, dan menjadikan tantangan untuk menggeser momen ini menjadi gerakan yang bersifat kultural.

Di pekan ketiga hajatan ini, saya bersua pula dengan Mursyid Amri, sosok penulis dan pentolan Forum Anak Butta Toa (FABT). Ia mengimajinasikan hajatan dalam dimensi yang lebih jauh ke depan. Jika hajatan ini berhasil memancing dan menginspirasi elemen masyarakat lainnya, betapa dahsyatnya gerakan literasi di Bantaeng.

Dari perjumpaan dengan beberapa penghadir di raga ruang publik ini, dimensi jiwa ranah publik saya sunyata mengusik dengan tanya, bagaimana merawat momentum moncernya gerakan literasi ini secara konsisten dan persisten? Tiba-tiba saja saya teringat dengan Ranperda Literasi Bantaeng yang sementara digodok naskahnya. Saya pun membatin, tenanglah jiwa, letupan-letupan literasi ini, akan dikawal simpai pasal-pasal yang akan mengatur dan merawatnya.

Kala saya menorehkan esai ini, imajinasi saya melayang-layang ke negeri antah berantah yang sudah mapan tradisi literasinya. Satu negeri yang tradisi bacanya, tak tergoyahkan oleh hadirnya perangkat-perangkat teknologi yang membunuh minat baca. Melainkan, kehadiran teknologi semakin memoncerkan minat baca, sebab bahan bacaan tersedia begitu mudah untuk diakses. Mengapa? Sebab dunia dalam genggaman, pengetahuan mudah dintip lewat layar datar.  

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *